Pendekatan Saintifik Dalam Kurikulum 2013
A. Pengertian Pendekatan Saintifik
Pendekatan saintifik merupakan proses pembelajaran yang dirancang sedemikian rupa semoga penerima didik secara aktif mengkonstruk konsep, aturan dan prinsip melalui tahapan mengamati (untuk mengidentifikasi atau menemukan masalah), merumuskan masalah, mengajukan atau merumuskan hipotesis, mengumpulkan data dengan aneka macam teknik, menganalisa data, menarik kesimpulan dan mengkomunikasikan konsep, aturan atau prinsip yang “ditemukan”( Hosnan,2014: 34). Dalam pembelajaran saintifik dibutuhkan tercipta kondisi pembelajaran yang mendorong penerima didik untuk mencari tahu isu dari aneka macam sumber melalui observasi, dan bukan hanya diberi tahu.
Pembelajaran yang melibatkan pendekatan saintifik akan melibatkan keterampilan proses, ibarat kegiatan pengamatan atau observasi yang dibutuhkan untuk pengajuan hipotesis atau pengumpulan data. Menurut Sani (2014: 51) metode ilmiah pada umumnya dilandasi dengan pemaparan data yang diperoleh melalui pengamatan atau percobaan. Oleh alasannya ialah itu, percobaan sanggup diganti dengan kegiatan memperoleh isu dari aneka macam sumber. Dalam melaksanakan kegiatan tersebut, dukungan atau bimbingan guru tetap dibutuhkan.
B. Tujuan pembelajaran dengan pendekatan saintifik
Tujuan pembelajaran dengan pendekatan saintifik didasarkan pada keunggulan pendekatan tersebut. Beberapa tujuan pembelajaran dengan pendekatan saintifik adalah
Beberapa pendekatan saintifik dalam kegiatan pembelajaran ialah sebagai berikut:
1. Pembelajaran berpusat pada siswa,
2. Pembelajaran membentuk student self concept,
3. Pembelajaran terhindar dari verbalisme,
4. Pembelajaran menawarkan kesempatan kepada siswa untuk mengasimilasi dan mengakomodasi konsep, aturan dan prinsip,
5. Pembelajaran mendorong terjadinya peningkatan kemampuan berfikir siswa,
6. Pembelajaran meningkatkan motivasi berguru siswa dan motivasi mengajar guru,
7. Memberikan kesempatan kepada siswa untuk melatih kemampuan dalam komunikasi,
8. Adanya proses validasi terhadap konsep, aturan dan prinsip yang dikonstruksi siswa dalam struktur kognitifnya. ( Hosnan,2014 : 37)
Kegiatan menyimpulkan dalam pembelajaran dengan pendekatan saintifik merupakan kelanjutan dari kegiatan mengolah data atau informasi. Setelah menemukan keterkaitan antar isu dan menemukan aneka macam pola dari keterkaitan tersebut, selanjutnya secara bantu-membantu dalam satu kesatuan kelompok, atau secara individual membuat kesimpulan.
Pembelajaran yang melibatkan pendekatan saintifik akan melibatkan keterampilan proses, ibarat kegiatan pengamatan atau observasi yang dibutuhkan untuk pengajuan hipotesis atau pengumpulan data. Menurut Sani (2014: 51) metode ilmiah pada umumnya dilandasi dengan pemaparan data yang diperoleh melalui pengamatan atau percobaan. Oleh alasannya ialah itu, percobaan sanggup diganti dengan kegiatan memperoleh isu dari aneka macam sumber. Dalam melaksanakan kegiatan tersebut, dukungan atau bimbingan guru tetap dibutuhkan.
B. Tujuan pembelajaran dengan pendekatan saintifik
Tujuan pembelajaran dengan pendekatan saintifik didasarkan pada keunggulan pendekatan tersebut. Beberapa tujuan pembelajaran dengan pendekatan saintifik adalah
- Uuntuk meningkatkan kemampuan intelek, khususnya kemampuan berpikir tingkat tinggi penerima didik.
- Untuk membentuk kemampuan penerima didik dalam menuntaskan suatu persoalan secara sistematik.
- Terciptanya kondisi pembelajaran dimana penerima didik merasa bahwa berguru itu merupakan suatu kebutuhan.
- Diperolehnya hasil berguru yang tinggi
- Untuk melatih penerima didik dalam mengomunikasikan ide-ide, khususnya dalam menulis artikel ilmiah
- Untuk menyebarkan huruf penerima didik Hosnan, 2014).
C. Prinsip – Prinsip pembelajaran dengan pendekatan saintifik
Beberapa pendekatan saintifik dalam kegiatan pembelajaran ialah sebagai berikut:1. Pembelajaran berpusat pada siswa,
2. Pembelajaran membentuk student self concept,
3. Pembelajaran terhindar dari verbalisme,
4. Pembelajaran menawarkan kesempatan kepada siswa untuk mengasimilasi dan mengakomodasi konsep, aturan dan prinsip,
5. Pembelajaran mendorong terjadinya peningkatan kemampuan berfikir siswa,
6. Pembelajaran meningkatkan motivasi berguru siswa dan motivasi mengajar guru,
7. Memberikan kesempatan kepada siswa untuk melatih kemampuan dalam komunikasi,
8. Adanya proses validasi terhadap konsep, aturan dan prinsip yang dikonstruksi siswa dalam struktur kognitifnya. ( Hosnan,2014 : 37)
D. Langkah – langkah umum pembelajaran dengan pendekatan saintifik
Proses pembelajaran pada Kurikulum 2013 untuk semua jenjang dilaksanakan dengan memakai pendekatan ilmiah (saintifik). Langkah - langkah pendekatan ilmiah (scientific approach) dalam proses pembelajaran mencakup menggali isu melalui pengamatan, bertanya, percobaan, kemudian mengolah data atau informasi, menyajikan data atau informasi, dilanjutkan dengan menganalisis, menalar, kemudian menyimpulkan, dan mencipta. Untuk mata pelajaran, materi, atau situasi tertentu, sangat mungkin pendekatan ilmiah ini tidak selalu sempurna diaplikasikan secara prosedural. Pada kondisi ibarat ini, tentu saja proses pembelajaran harus tetap menerapkan nilai-nilai atau sifat-sifat ilmiah dan menghindari nilai-nilai atau sifat-sifat nonilmiah (Hosnan, 2014).
Dalam buku Materi Pelatihan Guru, Syarif memaparkan bahwa pendekatan saintifik dalam pembelajaran disajikan menjadi lima pengalaman belajar, sebagai berikut :
Dalam buku Materi Pelatihan Guru, Syarif memaparkan bahwa pendekatan saintifik dalam pembelajaran disajikan menjadi lima pengalaman belajar, sebagai berikut :
1. Mengamati (observasi)
Kegiatan mengamati mengutamakan kebermaknaan proses pembelajaran (meaningfull learning). Metode ini mempunyai keunggulan tertentu, ibarat menyajikan media obyek secara nyata, penerima didik bahagia dan tertantang, dan gampang pelaksanaannya. Metode mengamati bermanfaat bagi pemenuhan rasa ingin tahu penerima didik. Sehingga proses pembelajaran mempunyai kebermaknaan yang tinggi. Kegiatan mengamati dalam pembelajaran sebagaimana disampaikan dalam Permendikbud Nomor 81a, hendaklah guru membuka secara luas dan bervariasi kesempatan penerima didik untuk melaksanakan pengamatan melalui kegiatan: melihat, menyimak, mendengar, dan membaca. Guru memfasilitasi penerima didik untuk melaksanakan pengamatan, melatih mereka untuk memperhatikan (melihat, membaca, mendengar) hal yang penting dari suatu benda atau objek. Adapun kompetensi yang dibutuhkan ialah melatih kesungguhan, ketelitian, dan mencari informasi.
Dalam kegiatan mengamati, guru membuka kesempatan secara luas kepada penerima didik untuk bertanya mengenai apa yang sudah dilihat, disimak, dibaca atau dilihat. Guru perlu membimbing penerima didik untuk sanggup mengajukan pertanyaan: pertanyaan perihal yang hasil pengamatan objek yang konkrit hingga kepada yang aneh berkenaan dengan fakta, konsep, prosedur, atau pun hal lain yang lebih abstrak.
2. Menanya
Dalam kegiatan mengamati, guru membuka kesempatan secara luas kepada penerima didik untuk bertanya mengenai apa yang sudah dilihat, disimak, dibaca atau dilihat. Guru perlu membimbing penerima didik untuk sanggup mengajukan pertanyaan: pertanyaan perihal yang hasil pengamatan objek yang konkrit hingga kepada yang aneh berkenaan dengan fakta, konsep, prosedur, atau pun hal lain yang lebih abstrak. Pertanyaan yang bersifat faktual hingga kepada pertanyaan yang bersifat hipotetik. Dari situasi di mana penerima didik dilatih memakai pertanyaan dari guru, masih memerlukan dukungan guru untuk mengajukan pertanyaan hingga ke tingkat di mana penerima didik bisa mengajukan pertanyaan secara mandiri. Dari kegiatan kedua dihasilkan sejumlah pertanyaan.
Melalui kegiatan bertanya dikembangkan rasa ingin tahu penerima didik. Semakin terlatih dalam bertanya maka rasa ingin tahu semakin sanggup dikembangkan.
Pertanyaan tersebut menjadi dasar untuk mencari isu yang lebih lanjut dan bermacam-macam dari sumber yang ditentukan guru hingga yang ditentukan penerima didik, dari sumber yang tunggal hingga sumber yang beragam.
Kegiatan “menanya” dalam kegiatan pembelajaran sebagaimana disampaikan dalam Permendikbud Nomor 81a Tahun 2013, ialah mengajukan pertanyaan perihal isu yang tidak dipahami dari apa yang diamati atau pertanyaan untuk mendapat isu aksesori perihal apa yang diamati (dimulai dari pertanyaan faktual hingga ke pertanyaan yang bersifat hipotetik). Adapun kompetensi yang dibutuhkan dalam kegiatan ini ialah menyebarkan kreativitas, rasa ingin tahu, kemampuan merumuskan pertanyaan untuk membentuk pikiran kritis yang perlu untuk hidup cerdas dan berguru sepanjang hayat.
Kegiatan “menanya” dalam kegiatan pembelajaran sebagaimana disampaikan dalam Permendikbud Nomor 81a Tahun 2013, ialah mengajukan pertanyaan perihal isu yang tidak dipahami dari apa yang diamati atau pertanyaan untuk mendapat isu aksesori perihal apa yang diamati (dimulai dari pertanyaan faktual hingga ke pertanyaan yang bersifat hipotetik). Adapun kompetensi yang dibutuhkan dalam kegiatan ini ialah menyebarkan kreativitas, rasa ingin tahu, kemampuan merumuskan pertanyaan untuk membentuk pikiran kritis yang perlu untuk hidup cerdas dan berguru sepanjang hayat.
3. Mengumpulkan Informasi
Kegiatan “mengumpulkan informasi” merupakan tindak lanjut dari bertanya. Kegiatan ini dilakukan dengan menggali dan mengumpulkan isu dari aneka macam sumber melalui aneka macam cara. Untuk itu penerima didik sanggup membaca buku yang lebih banyak, memperhatikan fenomena atau objek yang lebih teliti, atau bahkan melaksanakan eksperimen. Dari kegiatan tersebut terkumpul sejumlah informasi. Dalam Permendikbud Nomor 81a Tahun 2013, acara mengumpulkan isu dilakukan melalui eksperimen, membaca sumber lain selain buku teks, mengamati objek/ kejadian/, acara wawancara dengan nara sumber dan sebagainya.
Adapun kompetensi yang dibutuhkan ialah menyebarkan perilaku teliti, jujur,sopan, menghargai pendapat orang lain, kemampuan berkomunikasi, menerapkan kemampuan mengumpulkan isu melalui aneka macam cara yang dipelajari, menyebarkan kebiasaan berguru dan berguru sepanjang hayat.
4. Mengasosiasikan/ Mengolah Informasi/Menalar
Kegiatan “mengasosiasi/ mengolah informasi/ menalar” dalam kegiatan pembelajaran sebagaimana disampaikan dalam Permendikbud Nomor 81a Tahun 2013, ialah memproses isu yang sudah dikumpulkan baik terbatas dari hasil kegiatan mengumpulkan/eksperimen maupun hasil dari kegiatan mengamati dan kegiatan mengumpulkan informasi. Pengolahan isu yang dikumpulkan dari yang bersifat menambah keluasan dan kedalaman hingga kepada pengolahan isu yang bersifat mencari solusi dari aneka macam sumber yang mempunyai pendapat yang berbeda hingga kepada yang bertentangan. Kegiatan ini dilakukan untuk menemukan keterkaitan satu isu dengan isu lainya, menemukan pola dari keterkaitan isu tersebut. Adapun kompetensi yang dibutuhkan ialah menyebarkan perilaku jujur, teliti, disiplin, taat aturan, kerja keras, kemampuan menerapkan mekanisme dan kemampuan berpikir induktif serta deduktif dalam menyimpulkan. Aktivitas ini juga diistilahkan sebagai kegiatan menalar, yaitu proses berfikir yang logis dan sistematis atas fakta-kata empiris yang sanggup diobservasi untuk memperoleh selesai berupa pengetahuan.
Aktivitas menalar dalam konteks pembelajaran pada Kurikulum 2013 dengan pendekatan ilmiah banyak merujuk pada teori berguru asosiasi atau pembelajaran asosiatif. Istilah asosiasi dalam pembelajaran merujuk pada kemamuan mengelompokkan bermacam-macam wangsit dan mengasosiasikan bermacam-macam insiden untuk kemudian memasukannya menjadi potongan memori.
Selama mentransfer peristiwa-peristiwa khusus ke otak, pengalaman tersimpan dalam tumpuan dengan insiden lain. Pengalaman-pengalaman yang sudah tersimpan di memori otak berelasi dan berinteraksi dengan pengalaman sebelumnya yang sudah tersedia.
5. Menarik kesimpulan
Kegiatan menyimpulkan dalam pembelajaran dengan pendekatan saintifik merupakan kelanjutan dari kegiatan mengolah data atau informasi. Setelah menemukan keterkaitan antar isu dan menemukan aneka macam pola dari keterkaitan tersebut, selanjutnya secara bantu-membantu dalam satu kesatuan kelompok, atau secara individual membuat kesimpulan.6. Mengomunikasikan
Pada pendekatan scientific guru dibutuhkan memberi kesempatan kepada penerima didik untuk mengkomunikasikan apa yang telah mereka pelajari. Kegiatan ini sanggup dilakukan melalui menuliskan atau menceritakan apa yang ditemukan dalam kegiatan mencari informasi, mengasosiasikan dan menemukan pola. Hasil tersebut disampaikan di kelas dan dinilai oleh guru sebagai hasil berguru penerima didik atau kelompok penerima didik tersebut. Kegiatan “mengkomunikasikan” dalam kegiatan pembelajaran sebagaimana disampaikan dalam Permendikbud Nomor 81a Tahun 2013, ialah memberikan hasil pengamatan, kesimpulan menurut hasil analisis secara lisan, tertulis, atau media lainnya (Syarif,2013).
Adapun kompetensi yang dibutuhkan dalam kegiatan ini ialah menyebarkan perilaku jujur, teliti, toleransi, kemampuan berpikir sistematis, mengungkapkan pendapat dengan singkat dan jelas, dan menyebarkan kemampuan berbahasa yang baik dan benar.
Kegiatan pembelajaran mencakup tiga kegiatan pokok, yaitu kegiatan pendahuluan, kegiatan inti, dan kegiatan penutup. Kegiatan pendahuluan bertujuan untuk membuat suasana awal pembelajaran yang efektif yang memungkinkan penerima didik sanggup mengikuti proses pembelajaran dengan baik. Sebagai pola dikala memulai pembelajaran, guru menyapa anak dengan nada bersemangat dan besar hati (mengucapkan salam), mengecek kehadiran para penerima didik dan menanyakan absensi penerima didik apabila ada yang tidak sanggup hadir.
Dalam metode saintifik tujuan utama kegiatan pendahuluan ialah memantapkan pemahaman penerima didik terhadap konsep-konsep yang telah dikuasai yang berkaitan dengan bahan pelajaran gres yang akan dipelajari oleh penerima didik. Dalam kegiatan ini, guru harus mengupayakan semoga penerima didik yang belum paham suatu konsep sanggup memahami konsep tersebut, sedangkan penerima didik yang mengalami kesalahan konsep, kesalahan tersebut sanggup dihilangkan. Pada kegiatan pendahuluan, disarankan guru memperlihatkan fenomena atau insiden “aneh” atau “ganjil” (discrepant event) yang sanggup menggugah timbulnya pertanyaan pada diri penerima didik (Rahman, 2014).
Tahapan acara berguru yang dilakukan dengan pembelajaran saintifik tidak harus dilakukan mengikuti mekanisme yang kaku, namun sanggup diadaptasi dengan pengetahuan yang hendak dipelajari (Sani ,2014: 54). Kemudian Sani (2014:76) memberikan bahwa metode yang sesuai dengan pendekatan pembelajaran saintifik antara lain : pembelajaran berbasis inkuiri, pembelajaran inovasi (discovery learning), pembelajaran berbasis persoalan (problem based learning), dan pembelajaran berbasis proyek (project based learning), dan metode lain yang relevan.
Demikianlah Pengertian Pendekatan Saintifik, Prinsip – Prinsip pembelajaran dengan pendekatan saintifik dan Langkah – langkah umum pembelajaran dengan pendekatan saintifik
E. Penerapan pendekatan saintifik dalam pembelajaran
Kegiatan pembelajaran mencakup tiga kegiatan pokok, yaitu kegiatan pendahuluan, kegiatan inti, dan kegiatan penutup. Kegiatan pendahuluan bertujuan untuk membuat suasana awal pembelajaran yang efektif yang memungkinkan penerima didik sanggup mengikuti proses pembelajaran dengan baik. Sebagai pola dikala memulai pembelajaran, guru menyapa anak dengan nada bersemangat dan besar hati (mengucapkan salam), mengecek kehadiran para penerima didik dan menanyakan absensi penerima didik apabila ada yang tidak sanggup hadir.Dalam metode saintifik tujuan utama kegiatan pendahuluan ialah memantapkan pemahaman penerima didik terhadap konsep-konsep yang telah dikuasai yang berkaitan dengan bahan pelajaran gres yang akan dipelajari oleh penerima didik. Dalam kegiatan ini, guru harus mengupayakan semoga penerima didik yang belum paham suatu konsep sanggup memahami konsep tersebut, sedangkan penerima didik yang mengalami kesalahan konsep, kesalahan tersebut sanggup dihilangkan. Pada kegiatan pendahuluan, disarankan guru memperlihatkan fenomena atau insiden “aneh” atau “ganjil” (discrepant event) yang sanggup menggugah timbulnya pertanyaan pada diri penerima didik (Rahman, 2014).
Tahapan acara berguru yang dilakukan dengan pembelajaran saintifik tidak harus dilakukan mengikuti mekanisme yang kaku, namun sanggup diadaptasi dengan pengetahuan yang hendak dipelajari (Sani ,2014: 54). Kemudian Sani (2014:76) memberikan bahwa metode yang sesuai dengan pendekatan pembelajaran saintifik antara lain : pembelajaran berbasis inkuiri, pembelajaran inovasi (discovery learning), pembelajaran berbasis persoalan (problem based learning), dan pembelajaran berbasis proyek (project based learning), dan metode lain yang relevan.
Demikianlah Pengertian Pendekatan Saintifik, Prinsip – Prinsip pembelajaran dengan pendekatan saintifik dan Langkah – langkah umum pembelajaran dengan pendekatan saintifik

Komentar
Posting Komentar